Kamis, 28 November 2013

Daftar Film untuk #HariGuru

Berikut ini adalah daftar film yang direkomendasikan oleh saya, juga akan sayaHa tambahkan di daftar film tentang guru dan pendidikan ini.
16. 3 Idiots (lihat trailer)
film rekomendasi Film Rekomendasi untuk Hari Guru
Ayo tonton film rekomendasi di Hari Guru ini (foto: blog.lessonpathways.com)
Itulah daftar film rekomendasi untuk Hari Guru. #HariGuru. Terimakasih

Efektifkah menyindir lewat jejaring sosial?

Salah satu tren kehidupan masyarakat modern saat ini adalah sangat dinamisnya interaksi di jejaring sosial, salah satunya melalui FB. Media ini tak jarang menjadi salah satu sarana yang sering dipilih banyak orang untuk menyampaikan kritik atau saran pada teman atau orang dekat. Beberapa berhasil mengenai sasaran dengan tepat, tapi tak jarang juga yang justru salah korban, haha. Sebagaimana diungkapkan oleh sejumlah teman anonim berikut ini.

“Statusku kan untuk nyindir si anu, kenapa dia yang kebakaran jenggot?” curhat seorang teman suatu kali. Salah sasaran ceritanya, sehingga jatuh korban tidak terduga :) Orang yang menjadi target utama bahkan gak merespon apa-apa, jangan-jangan bacapun tidak.

Teman lain menceritakan bahwa ‘umpan’ yang ia pasang dalam statusnya memang dimakan oleh si target tapi karena ia tidak to the point pada pokok masalah, si target bukannya menyadari kesalahannya, justru ia semakin besar kepala. Serba salah jadinya.

Bagaimana dengan saya sendiri?

Mungkin karena saya makhluk halus, terlalu berperasaan maksudnya :) , saya sangat sering menjadi korban salah sasaran. Tidak hanya membuat saya merasa tersindir, beberapa status bahkan sempat membuat saya menangis berjam-jam dan badmood berhari-hari. Duh sampai segitunya kah? Agak aneh memang, tapi begitulah adanya.

Status-status yang menyakitkan itu, kadang memancing saya untuk melakukan hal yang sama, membuat status sindiran serupa. Tapi dasar saya makhluk halus (baca: terlalu berperasaan alias sensitif), maunya menyindir dengan sehalus mungkin. Mikirnya aja bisa lama banget, bisa setengah jam hanya untuk memilah kata-kata yang tidak terlalu kentara. Ujung-ujungnya, sudah nulis hampir setengah halaman kwarto mungkin, saya lebih sering menghapusnya kembali. Tetap yakin menghapusnya meski Mr FB mencoba menggoyahkan keputusan saya dengan bertanya,

“Yakin nih gak mau membalas statusnya yang sudah bikin kamu mengeluarkan bermili-mili liter air mata?” haha. Pertanyaan ini yang saya maksud “Anda yakin akan meninggalkan halaman ini?”.

Mengapa saya lebih sering menghapus kembali status-status balasan yang sudah susah payah saya pikir dan ketik? Entahlah, saya hanya tidak kuasa mendengar kata hati saya sendiri yang mengatakan, diberi kritik saja rasanya sudah tidak enak, apalagi dikatakan secara terbuka melalui jejaring sosial yang bisa membuat malu yang bersangkutan.

“Jika berani, kamu to the point saja pada yang bersangkutan melalui pesan pribadi. Dan selesaikan masalah yang ingin kamu selesaikan dengannya berdua saja. Itu lebih menjaga kehormatan dan perasaan masing-masing” demikian kata hati saya berikutnya.

Hal lain yang juga saya takutkan saat menulis status sindiran adalah, saya khawatir status itu bisa menggores perasaan orang-orang yang sebenarnya tidak menjadi target utama. Padahal yang menjadi target bisa jadi meleset. Kalau ini yang terjadi, masalah yang sudah ada bukannya menemui solusi, justru menambah masalah dan bahkan dosa baru. Dalam hal ini, saya teringat nasihat seorang teman.

"Kata dan sikap yang menyakitkan itu seperti paku. Saat kita menancapkannya di pagar, kita mungkin bisa mencabutnya kembali, tapi bekasnya akan abadi. Salah kita mungkin telah dimaafkan oleh orang yang telah kita sakiti, namun mungkin ia tak bisa melupakan kesalahan kita dalam waktu yang lama bahkan mungkin seumur hidupnya". Aduh, mengerikan sekali membayangkannya.

Nasihat teman lain semakin membuat saya takut saja. Begini nasihatnya, "Untuk setiap kemarahan dan kesedihan yang dirasakan oleh teman atau saudaramu, karena perkataan atau sikapmu, maka itu akan mengurangi pahalamu". Aduh, sudah jumlah amal kebaikannya gak seberapa, kalau dikurangi terus bisa minus nih saldo tabungan akhirat :(

Rumitkah solusinya jika ada masalah yang harus disampaikan pada teman atau saudara? Tidak juga. Agama sudah memberi panduannya : katakanlah yang baik atau diamlah. Dan memaafkan itu adalah pilihan yang jauh lebih utama saat kita tersakiti. Kalaupun ada nasihat yang harus disampaikan, sampaikanlah dengan kata yang sebaik mungkin dengan tetap menjaga perasaan dan kehormatannya. Sampaikanlah secara pribadi jika nasihat itu memang benar-benar ditujukan untuknya.

Lalu, efektifkah menyindir lewat status jejaring sosial? Mari kita jawab di hati masing-masing :)

Bersujud adalah obat psikologi paling ampuh

Bersujud adalah bentuk perendahan diri di hadapan Alloh, sekaligus merendahkan hati kepada sesama manusia. Karena itu, bersujud bisa mengendorkan ketegangan psikis. Bersujud adalah obat psikologis yang ampuh.
Berawal dari sakit gigi yang menjalar ke sebagian kepala sejak sore hari, posting ini lahir.  Posting ini juga mengingatkan kepada tema Ramadhan Produktif di rudicahyo.com. Tema ini ada setiap tahun, dan di awali tahun lalu. Melalui Ramadhan Produktif, pengalaman dan refleksi dituliskan kembali, sehingga menjadi pelajaran yang asik untuk dibagi. Berbagai pengalaman yang terjadi di Bulan Suci ini, akan dibagi melalui posting di rudicahyo.com. Ikuti terus ya..
Ok, kembali lagi ke cerita tentang sakit gigi. Iya, sore ini rasa senut-senut mulai ada saat mengendarai motor. Angin yang menyambar dan sebagian masuk ke mulut ketika sedikit menganga, membuat gusi dan gigi tersentuh dinginnya. Awalnya cuma sedikit ngilu. Semakin malam, semakin seru saja rasanya. Ditambah lagi, harus ikutan kerja bakti warga. Bulan puasa, kerja bakti yang sedianya dilakukan di pagi hari, diubah menjadi malam hari. Benar-benar warga yang tangguh ya hehe.
Kembali ke gigi. Awalnya, sebutir analgesik mampu meredakan sakitnya. Hasilnya, alhamdulillah dapat digunakan untuk mengikuti kerja bakti. Pada kelanjutan perjalanan, ternyata analgesik hanya mampu menangkis sakitnya untuk sementara. Untunglah kerja bakti dibubarkan oleh hujan. Sampai di rumah, rasa sakitnya kembali meremas-remas gusi, seolah akan mencabut gigi sampai ke akar-akarnya. Tetap dengan jalaran rasa sakit yang mengungkit-ungkit kepala.
Aku rebus air untuk membuat air hangat buat kumur. Lumayan sih pada saat, di kumuri air hangat, terasa ada pijatan di gusi. Tapi setelah kumur usai, rasa sakitnya tetap saja. Sedikit reda sih.
Karena posisi waktu kumur lagi di kamar mandi, sekalian aku ambil air wudlu. Aku coba gunakan untuk sholat. Awalnya sulit membuat diri rileks, karena sakitnya tetap memegang kendali. Seharusnya yang terjadi sebaliknya, sholat justru membuat jadi rileks.
Hebatnya, rasa sakit mereda ketika posisi tubuh sedang sujud. Ketika memasrahkan diri dan menikmati setiap sentuhan tangan, lutut dan dahi di lantai, rasa sakit semakin mereda dan tubuh semakin rileks.
Dari pengalaman ini, pasca sholat aku cermati arti dari bacaan ketika sujud, “Maha suci Tuhan yang maha tinggi…”. Pada saat sujud, kita merendahkan diri kita di hadapan Alloh. Pada saat kita merasa kecil di hadapan Alloh, maka saat itu juga kita belajar merendahkan hati kepada sesama manusia. Jika kita merasa kecil, maka apa yang patut kita sombongkan kepada sesama manusia yang juga sama-sama mahluk Alloh yang kecil.
Perasaan bahwa ada yang lebih tinggi, berkuasa atas kita, membuat kita lebih santai, ketegangan mengendur. Kerendahan hati sebagai efek dari sama-sama merasa kecil di hadapan Alloh ketika sujud, juga mengendorkan stress.
Rasa tegang dan stress biasanya disebabkan oleh rentang harapan dan kenyataan. Membandingkan bisa dilakukan dengan diri sendiri atau orang lain. Membandingkan dengan diri sendiri, artinya membandingkan antara diri ideal dan diri real. Sedangkan membandingkan dengan orang lain, artinya ketidakpuasan karena ada gap atau jarak antara diri dan orang lain.
Rasa rendah hati mengurangi kebiasaan membandingkan, baik dengan diri ideal atau dengan orang lain. Kebiasaan bersujud juga membiasakan kita merasa rendah hati. Jika hal ini melembaga (terinternalisasi) dalam diri kita, maka kita akan menjadi orang yang biasa rileks. Tentu saja hal ini akan menyehatkan psikis kita.
Begitulah, bagaimana bersujud dapat menjadi obat psikologis yang ampuh. Bolehlah ini disebut sebagai pengalaman spiritual. Apakah Kamu juga punya pengalaman serupa?

Kenapa imajinasi anak itu penting

Memiliki imajinasi adalah kondisi alamiah anak-anak. Karena kondisi alamiah, maka mengembangkan imajinasi anak juga merupkan cara mendukung kekuatan alamiah anak. Apa pentingnya imajinasi bagi anak?
Pernahkan tiba-tiba tangan diseret oleh anak dan kita dipaksa masuk ke kamar untuk ditunjukkan hasil karyanya? Bagaimana reaksi kita?
Sebelum menjawab pertanyaan tentang reaksi, coba ingat kembali kejadiannya. Dari mencermati berbagai kasus di lapangan, reaksi orangtua dipengaruhi oleh dua kondisi umum anaknya. Untuk orangtua dengan anak yang sudah besar, seusia SD, kebanyakan orangtua lebih mudah memberikan apresiasi. Sementara yang anaknya masih kecil, lebih sulit mengapresiasi. Kenapa?
Untuk anak yang lebih besar, biasanya hasil karyanya sesuai dengan harapan orangtua, sedangkan hasil karya anak yang lebih kecil biasanya masih menurut kehendak anak itu sendiri. Misalnya saja anak yang lebih besar membuat origami pesawat, sedangkan anak yang lebih kecil belum mampu melakukan itu. Mungkin si kecil menempel kertas kado di tembok dalam kondisi menceng, terbalik, atau belepotan. Nah, untuk anak yang lebih kecil ini, bagaimana reaksi kita?
Ada juga sih orangtua yang ‘pandai mengapresiasi’. Pandai mengapresiasi di sini berarti pandai menjaga perasaan anak, sehingga mengatakan, “Wah, bagus sekali!”, “Pintar sekali anak, Mama” dan sebagainya. Apakah itu benar-benar mengapresiasi? Ok, tak mengapa, itu masih lumayan, meskipun belum benar-benar mengapresiasi dari hati.
Terlepas dari apresiasi tersebut, tak jarang kita dibuat tertawa oleh ulah anak yang bangga menunjukkan hasil karyanya. Aku kadang ngakak diajak Bintang menyaksikan hasil gambarnya. Dia menyeret tanganku dengan bangga, sambil mengatakan “Lihat Pak, ini cacing!” hahaha. Pernah juga dia melukis di kanvas. Sebenarnya kanvas itu sudah ada gambarnya, dan memang diperuntukkan untuk aktivitas mewarnai. Bintang bikin gores-goresan tak karuan. Ku unggah hasil karyanya di path. Banyak yang tertawa ngakak melihatnya. Aku menyebutnya Masterpiece ala @bintangABC.
Kali ini kita tidak sedang membicarakan tentang apresiasinya. Tentang apresiasi dapat dibaca di sini. Sekarang kita coba bayangkan lagi saat kita ngakak melihat ulah anak yang kadang jauh di luar jangkauan pikiran kita. Itulah yang menunjukkan imajinasi anak sedang bekerja.
Anak punya kapasitas yang sama besarnya antara imajinsi dan mengingat sejarah. Artinya, anak tidak hanya mampu mengingat pengalaman atau kejadian yang sudah mereka alami atau saksikan. Anak juga memiliki kemampuan untuk membentuk, mengonstruksi sesuatu di benaknya. Inilah yang disebut imajinasi.
Sayangnya, imajinasi anak lama-lama diingkari. Orang dewasa yang lebih banyak berkutat dengan pengalaman, cara berpikir yang rasional dan logis, membuat imajinasi anak kurang diakui. Contoh kecil saja soal apresiasi. Ketika kita melihat dari sudut pandang kita, imajinasi anak yang ia tuangkan dalam karya, lebih sering sulit mendapat apresiasi dari orang dewasa. Kita sudah lama meninggalkan masa-masa seumuran anak kita, sehingga cara berpikirnya pasti sudah beda. Jika kita tak terbiasa menggunakan sudut pandang anak, maka imajinasi kita yang tidak imajinatif juga akan menindas imajinasi anak yang alamiah.
Karena imajinasi adalah potensi alamiah, maka seharusnya juga berkembang sebagaimana potensi berpikir empiris dan logis. Bahkan orang mengatakan, yang ilmiah itu adalah yang empiris, logis dan sistematis. Hal ini tentu saja berbeda dengan ciri-ciri imajinasi yang abstrak, lebih sering tidak logis, dan bersifat acak. Karena cirinya bertolak belakang, maka imajinasi dianggap tidak ilmiah. Hal ini juga turut menyumbang matinya imajinasi anak seiring bertambahnya usia. Padahal, untuk mengaitkan antar segala yang nyata itu dibutuhkan perantara. Perantara inilah imajinasi. Bahkan fakta hanya akan menjadi cerita biasa jika tidak dikonstruksi dengan imajinasi. Imajinasi adalah lem perekat yang ajaib.
Apa sih pentingnya berimajinasi? Kenapa imajinasi harus tetap dikembangkan?
1. Imajinasi memperluas dunia anak
Ajahn Brahm, seorang biksu terkenal dari Thailand, penulis buku “Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya” pernah menceritakan seorang anak cerdas yang mengatakan, “Mata adalah benda yang paling besar di dunia, karena apapun bisa masuk di dalamnya ketika kita melihat”. Namun menurut Brahm, ada jawaban yang lebih genius, yaitu pikiran. Pikiran tidak hanya mengolah apa yang pernah dilihat, tetapi juga menciptakan apa yang lebih pernah disaksikan. Itulah imajinasi. Inilah yang membuat dunia anak begitu luas. Rasa ingin tahu berpadu imajinasi adalah pembentuk pengetahuan yang dahsyat.
2. Imajinasi menyuplai energi bagi anak
Kita terbiasa berhadapan dengan kenyataan dengan satu banding satu. Artinya, kita memikirkan apa yang kita saksikan. Kemampuan asosiatif yang paling alami dimiliki oleh anak-anak. Ketika anak menyaksikan sesuatu, mereka langsung mengingat yang lain. Misalnya melihat bantal berderet, ia ingat kereta api. Asosiasi yang tinggi bersifat lentur. Kelenturan ini seperti tarian pikiran. Orang yang menari dengan hati yang riang mengikuti gerak, sebenarnya sedang membuka diri bagi masuknya energi dari berbagai arah. Begitu juga dengan pikiran yang menari. Anak-anak memiliki pikiran yang menari-nari.
3. Imajinasi menjaga anak tetap kreatif
Karena imajinasi bersifat lentur, yang kemudian membuat anak memiliki daya asosiasi yang tinggi, maka hal inilah yang membuat anak-anak kreatif. Jika kita menyaksikan anak mengangkat piring tinggi-tinggi dan mengatakan bahwa ufo telah datang dari langit, maka saat itulah ia sedang berkreasi. Mungkin orang dewasa berpikir, “Halah, pikirng kok dianggap ufo. Itu penciptaan macam apa?!”. Memang, piring bukan ufo. Semu orang pasti tahu itu. Dan piring yang dianggap ufo juga bukan penciptaan yang spektakuler. Tapi kebiasaan yang berimajinasi dengan cara seperti ini, membuat anak menjaga potensi imajinasinya. Jika kita memutus imajinasi anak, apalagi jika dilakukan secara intens, maka siap-siaplah anak akan menjadi tidak imajinatif. Artinya, daya penciptaannya akan rendah (atau bahkan mati).
2013 11 10 09.51.28 Kenapa Imajinasi Anak Itu Penting?
Jaga imajinasi anak tetap berkembang!

Disleksia

Disleksia (Inggrisdyslexia) adalah sebuah kondisi ketidakmampuan belajar pada seseorang yang disebabkan oleh kesulitan pada orang tersebut dalam melakukan aktivitas membaca danmenulis.
Kata disleksia berasal dari bahasa Yunani δυς- dys- ("kesulitan untuk") dan λέξις lexis ("huruf" atau "leksikal").
Pada umumnya keterbatasan ini hanya ditujukan pada kesulitan seseorang dalam membaca dan menulis, akan tetapi tidak terbatas dalam perkembangan kemampuan standar yang lain seperti kecerdasan, kemampuan menganalisa dan juga daya sensorik pada indera perasa.
Terminologi disleksia juga digunakan untuk merujuk kepada kehilangan kemampuan membaca pada seseorang dikarenakan akibat kerusakan pada otak. Disleksia pada tipe ini sering disebut sebagai Aleksia. Selain memengaruhi kemampuan membaca dan menulis, disleksia juga ditengarai juga memengaruhi kemampuan berbicara pada beberapa pengidapnya.
Penderita disleksia secara fisik tidak akan terlihat sebagai penderita. Disleksia tidak hanya terbatas pada ketidakmampuan seseorang untuk menyusun atau membaca kalimat dalam urutan terbalik tetapi juga dalam berbagai macam urutan, termasuk dari atas ke bawah, kiri dan kanan, dan sulit menerima perintah yang seharusnya dilanjutkan ke memori pada otak. Hal ini yang sering menyebabkan penderita disleksia dianggap tidak konsentrasi dalam beberapa hal. Dalam kasus lain, ditemukan pula bahwa penderita tidak dapat menjawab pertanyaan yang seperti uraian, panjang lebar.
Para peneliti menemukan disfungsi ini disebabkan oleh kondisi dari biokimia otak yang tidak stabil dan juga dalam beberapa hal akibat bawaan keturunan dari orang tua.
Ada dua tipe disleksia, yaitu developmental dyslexsia (bawaan sejak lahir) dan aquired dyslexsia (didapat karena gangguan atau perubahan cara otak kiri membaca). Developmental dyslexsiadiderita sepanjang hidup pasien dan biasanya bersifat genetik. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa penyakit ini berkaitan dengan disfungsi daerah abu-abu pada otak. Disfungsi tersebut berhubungan dengan perubahan konektivitas di area fonologis (membaca). Beberapa tanda-tanda awal disleksia bawaan adalah telat berbicara, artikulasi tidak jelas dan terbalik-balik, kesulitan mempelajari bentuk dan bunyi huruf-huruf, bingung antara konsep ruang dan waktu, serta kesulitan mencerna instruksi verbal, cepat, dan berurutan. Pada usia sekolah, umumnya penderita disleksia dapat mengalami kesulitan menggabungkan huruf menjadi kata, kesulitan membaca, kesulitan memegang alat tulis dengan baik, dan kesulitan dalam menerima.[1]
Tokoh-tokoh terkenal yang diketahui mempunyai disfungsi disleksia adalah Albert EinsteinTom CruiseBella ThorneOrlando BloomWhoopi GoldbergLee Kuan Yew Vanessa Amorosi, danFlorence Welch

Indonesia Negeri Impian Orang Jerman

Indonesia, negeri impian? Ternyata tidak hanya pikiran saya. Buktinya, banyak pengunjung di museum tempat memamerkan foto Kampret-Kompasianer hobi jepret yang menyorot keindahan alam dan budaya Indonesia, berdecak kagum dan meluncur keinginan untuk kembali berlibur ke Indonesia atau pensiun di sana. Negeri khayalan di kahyangan.
Bagaimana dengan Kompasianer? Setuju kalau Indonesia itu sebuah negeri impian? Mari mengacungkan jari tinggi-tinggi!
13822974791979073882
Berkhayal tinggal di Indonesia melihat foto Budi Cahya
***
Anak cacat pun diajak ke pameran
Sabtu, 19 Oktober 2013. Kami membuka museum khusus untuk kawan-kawan suami yang berasal dari Rumania (tinggal lama di Jerman) dan orang lokal (Jerman). Mereka ini tinggal agak jauh dari Seitingen-Oberflacht. Paling tidak, butuh satu jam-an mengendarai mobil.
Seperti pesan lesan dari pihak museum dan pemda, kami boleh menyelenggarakanSonder Austellung, pameran spesial (tidak hanya hari minggu, jadwal standar).
Sebanyak 37 tamu hadir. Usai minum kopi/teh, ditemani kue atau di Jerman dikenal dengan Kaffe trinken, acara pun dimulai.
1382297554315992010
Remaja disable juga hadir di pameran foto Kampret
Mula-mula suami saya membuka dengan menceritakan pengalamannya hidup di Semarang dan keliling Indonesia. Saya meneruskan dengan tarian Jawa modern, Abyor. Tarian yang tak kalah seksi dibanding tari perut Arab tapi tak maxi, hanya 5 menit digelar di depan mereka.
Tepuk tangan hadirin membuat saya yakin bahwa sekolah-sekolah di Indonesia harus tetap memberikan pelajaran menari (daerah) di sekolah, seperti yang saya dapat sewaktu TK-SMA. Ini bekal saya menjadi duta Indonesia (mengangkat diri sendiri, daripada tidak ada yang menunjuk) ketika berada di mancanegara. Asli!
Selanjutnya, kami berdua menerangkan gambar-gambar jepretan Kampret, satu per satu.
1382297628785500112
Papan pertama, berisi Kampret
1382297663420824291
Foto Kampret kopdar di Jogja 2013
Oh… dari 37 tamu, salah satunya adalah seorang anak muda berumur 25 tahun. Ia cacat sejak umur 5 tahun (saat itu ia tenggelam dan otaknya kemasukan air). Semenjak itulah, ia hanya bisa mengerang, tergolek, dan duduk. Kata orang tuanya yang begitu sabar merawat dalam segala suasana dan di mana pun berada selalu membawanya, mereka ini yakin bahwa si anak yang divonis tidak normal itu mengerti penjelasan pameran, dan bermanfaat untuknya.
Indonesia, negeri impian!
Minggu, 20 Oktober 2013. Satu jam sejak pukul 13.00, tidak ada seorang pun yang datang. Kami bertujuh menanti dengan sabar. Barangkali karena hujan turun deras, orang enggan datang. Lebih enak menarik selimut.
Pukul 14.00, tamu mulai memasuki museum. Lambat laun semakin banyak. Saya sapa beberapa dari mereka dan sedikit menerangkan tentang museum dan gambar yang ada.
Perbincangan semakin menarik ketika beberapa dari mereka mengatakan sudah pernah ke Indonesia. Backpacker! Sudah banyak yang mereka lihat. Sebabnya, mereka tidak bersama grup tetapi dengan angkutan dan rencana seadanya, tanpa guide tanpa travel agency.
1382297756203621776
Primitif nan unik, Baliem (Papua)
1382297798878711922
Bilang ke mamanya;mau ke Jawa lihat Nyai Roro Kidul
13822978581183937389
Turis Perancis,mengamati cara membatiknya mbak Etha
13822979141106774593
Termangu,mengamati jajaran presiden RI
13822979691494632417
Tawa anak Indonesia jepretan mas Harja,menginspirasi
1382298041429365839
Max terkesan foto keris mas Yus dan mas Bowo
1382298105970485665
Pengunjung hari ini,dari balita sampai lansia
13822981471311211116
Opa-Oma mengamati detil anggota Kampret
1382298192579134564
Contoh kesan-pesan positif dari pengunjung
Adalah Herr dan Frau S dari Durch Hausen. Mereka bahkan mengaku tuman alias mau datang lagi ke Indonesia karenanya. Mereka mengadakan perjalanan dari Ujung Kulon sampai Flores. Papua adalah pulau yang ingin mereka capai berikutnya. Terima kasih, mas Dhave Dhanang untuk jepretan unik di Baliem!
Ada tamu lain yang ke Indonesia, usai diimingi cerita heboh teman dari liburan di Asia, Thailand dan akhirnya terwujud, pergi ke Asia, Indonesia lewat tabungan bertahun-tahun lamanya. Enam minggu di sana.
Sepasang suami-istri lainnya, seumuran 60-an, bahkan mengatakan sedang memikirkan jalan untuk tinggal di negeri kita segera sesudah istri pensiun beberapa tahun lagi. Pengalaman terdahulu berlibur ke Tanah Air (dari Sumatera sampai NTT), sungguh membuat bayangan negeri kayangan selalu di pelupuk mata. Itu letaknya di Indonesia! Thanks to Kampret atas foto pasangan dari Pulau Nias!
Seorang kawan aerobik yang pernah dua minggu holiday di Bali, mengucapkan terima kasih yang tak terhingga. Ia bahkan memeluk dan mencium saya dua kali (di pipi). Katanya, pameran ini mengingatkan memori indah bersama negeri kita dengan pasir putih, ramah tamah orang-orangnya, makanan yang sedap dan budaya yang luar biasa adi luhungnya. Itu, baru Bali… belum Kalimantan, Jawa, Sumatera, Papua dan pulau-pulau kecil lainnya, sahabat ….
***
13822986891667389208
Jumpa lagi di pameran, minggu depan.
Demikian laporan pandangan mata untuk sementara, berkaitan dengan pameran foto Kampret yang kali ini diselenggarakan di Jerman hingga penutupan tanggal 27 Oktober 2013 (masih seminggu lagi). Bukan event besar tapi sungguh memberikantolle Eindrück, kesan yang dahsyat (itu kata orang Jerman, lho).
So, so, so… jika orang Jerman (yang majemuk, dari berbagai negeri EU alias banyak pendatang bukan orang Jerman asli) sendiri mengatakan bahwa Indonesia adalah negeri impian, saya yakin kita sebagai orang Indonesia, memiliki rasa mencintai dan memiliki yang lebih dari para turis yang jauh-jauh datang ke negeri kita untuk menikmati keindahan kharisma katulistiwa. Tak hanya kena imbas westernisasi tetapi juga nasionalis, terpatri dalam diri. Bukankah Indonesia milik bangsa Indonesia sendiri?
Berada di Negeri rantau, saya semakin setuju atas opini orang Jerman ini. Ya, ada sebuah negeri impian yang tak kan terlupakan, yakni… Indonesia! Salam ACI (Aku cinta Indonesia). Selamat malam! (G76)

Kompasiana adalah Media Warga. Setiap berita/opini di Kompasiana menjadi tanggung jawab Kompasianer (anggota Kompasiana) yang menayangkannya.Kompasiana tidak bertanggung jawab atas validitas dan akurasi informasi yang ditulis masing-masing kompasianer.   

Sabtu, 23 November 2013

Mengapa Thailand tak pernah dijajah negara manapun?

Mungkin banyak diantara kamu yang tidak tahu alasan mengapa negara Thailand tidak di jajah oleh negara manapun, saya kira karena raja Thailand itu bersikap terbuka terhadap bangsa asing maka buat apalagi di jajah bila telah terbuka gerbang seperti itu, ternyata bukan hanya alasan itu. Mari kita lihat alasan yg lebih jelasnya:


Quote:

Penyebab Thailand tidak pernah dijajah memiliki faktor internal dan eksternal:Faktor InternalRaja thailand pada masa itu sifatnya terbuka terhadap dunia luar.Sudah adanya orang-orang yang berpendidikan di thailand pada masa itu terutama keluarga kerajaan.anak-anak raja,keluarga raja di kirimkan keluar negeri(ke Eropa)guna menuntut ilmu,bahkan mendatangkan guru dari eropa ke kerajaan untuk mengajarkan ilmu pengetahuan.Faktor EksternalNegara Thailand pada masa itu menjadi buffer state (perbatasan)wilayah para kolonialis Eropa, antara Inggris di utara dan selatan, Prancis di Indocina dan Belanda di Hindia Belanda.